Dihambat Namun Tetap Merambat (25 Th Gereja Katolik Di Semau)
Duapuluh lima tahun yang lalu, ketika Uskup Agung Kupang, Mgr Gregorius Monteiro, SVD menginjakkan kakinya di tanah Bungtilu, Pulau Semau. Pada ketika itu masyarakat Pulau Semau hampir seluruhnya beragama Kristen Protestan. Kedatangan Bapa Uskup ke kawasan itu ialah demi memenuhi seruan dari sebuah keluarga yang secara belakang layar telah bersimpati terhadap Kristen dan hasilnya menentukan untuk menjadi orang Katolik.
Saya dan Bapak Yusuf dari Akle, Semau Selatan
Tersebutlah, Bapak Melkianus Bela ialah seorang penatua dalam suatu jemaat di Akle Semau Selatan. Pada suatu ketika ia mengalami konflik dengan jemaatnya wacana keuangan jemaat. Bapak Melki ini saking jengkelnya terhadap jemaat, dia tidak mau mengikuti acara jemaat. Setiap hari Minggu ia hanya tinggal di kebun, sementara orang-orang lain pergi ke gereja untuk mengikuti ibadat. Satu-satunya teman penghibur Melki ini ialah radio mini yang disetel untuk menangkap siaran dari Kupang.
Pada suatu hari iseng-iseng memutar gelombang radio, ia menemukan bunyi orang berdoa, menyebut-nyebut Tuhan Yesus namun menyinggung juga dengan ibunya Maria. Orang di gereja saya tidak biasa menyamakan Yesus dengan Ibunya, pikir Melki. Bagaimanapun juga Yesus itu Tuhan, sedangkan Maria itu insan biasa menyerupai orang kebanyakan di kampung.
Hari demi hari ia semakin tertarik dengan doa Angelus yang selalu dikumandangkan dari Radio Verbum itu, setiap jam enam pagi jam duabelas siang sampai jam enam sore. Ia semakin tertarik. Mungkin ada kristen yang lebih menarik. Ia mengikuti doa-doa itu setiap hari., sampai suatu hari ia ingin mencari tahu apa Kristen itu.
Sepengetahuannya, di utara ada orang yang beragama Kristen itu, seorang perantauan dari Solor yang menetap di Otan. Orang itu ditemuinya. Bapak Yoseph mendapatkan Melki dengan penuh ragu walaupun cukup respek. Ia ragu benarkah orang ini tertarik dengan keyakinan Kristen atau semata sebab kecewa dengan perilaku jemaatnya?
Melki dianjurkan untuk sendiri tiba ke Kupang menemui orang-orang penting menyerupai Pastor paroki di Katedral atau Bapak Uskup Agung Kupang.
Dengan modal nekad, Melki turun ke Kupang, dan menemui Bapa Uskup Gregorius Manteiro. Uskup menerimanya dengan perilaku kebapaan. "Melki, Melki, pulang dan kamu belum sanggup masuk Kristen sekarang. Belajar banyak dulu untuk menjadi katolik, sambil memperlihatkan buah tangan sebuah buku doa harian.
Meskipun bahagia Melki pulang dengan kecewa. Ia pikir di Kupang ini ia akan diterima dengan resmi menjadi Katolik. Ternyata tidak.
Ia kembali ke Semau dengan segala pergulatan batinnya. Namun sekali berlangkah ia tak mau mundur. Ia mengajak anak dan isterinya untuk tidak ke gereja namun setiap hari ahad mendoakan Salam Maria di kebunnya.
Sikapnya yang menarik diri dari jemaat ini mengundang kecurigaan dari masyarakat. Mereka menganggap Melki telah menganut suatu aliran sesat. Maka pada suatu hari Melki ditangkap dan diadili seturut pengadilan desa. Dia dipukuli dan dipaksa untuk mengaku bahwa dia telah melaksanakan aliran sesat dan berusaha untuk membujuk banyak orang untuk meninggalkan agama Kristen.
Kembali ke rumah dengan babak belur, Melki bukannya jera. Ia malah mencari proteksi ke Kupang. Mendatangi orang-orang Kristen yang dikenalnya sebagai pembesar-pembesar kota waktu itu. Dan ia mendapatkan dukungan. Pendeta yang mengadili dia tempo hari hasilnya dipindahkan dari Semau.
Tapi, Bapak Uskup belum juga mendapatkan dia sebagai orang Katolik. Hingga hasilnya pada suatu ketika di Oktober 1985 yang gersang, Bapa Uskup berkenan mengabarkan isu bangga ini, dia akan turun ke Semau Selatan, mengunjungi Melki dan saudara-saudaranya yang telah menentukan untuk menjadi Katolik. Siang yang terik mendaratkan Uskup Agung di Akle, Semau Selatan. Kedatangan Bapa Uskup lantas disongsong dengan hujan deras. Namun disambut dengan tangis kegembiraan. Bapa Uskup diarak berjalan kaki dari pelabuhan menuju kampung Akle. Pada kawasan Bapa Uskup beristirahat dan minum, didirikan sebuah kapel kini menjadi Kapel Santu Thomas Rasul.
Sekarang umat semakin bertambah banyak. kebanyakan dari mereka ialah pindahan dari Kristen Protestan. Perkembangan umat secara kuantitas dan kualitas di Semau ini tak terlepas dari peranan besar Romo Yustinus Phoa dan Romo Piet Olin. Kedua Romo ini pernah menjabat sebagai Kepala Paroki St. Gregorius Agung Oeleta Kupang, di mana daerahnya mencakup penggalan barat Kota Kupang dan Pulau Semau.
Sebagian umat Semau berpose bersama Br Ino CSA yang berpindah kiprah ke Jogja.Bapak Melki (berdiri, keempat dari kanan)
Ketika kamu tiba ke Semau nanti, kamu akan mendapati empat kapel besar di sana, di Uitao, Akle, Uitiuhtuan, dan Naok. Dua orang putera kelahiran Semau pun telah menentukan untuk menjadi imam. Frater Yarid Kornelis Munah kini berada di jenjang terakhir pendidikan di Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang, dan insya Allah akan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2011. Sedangkan seorang lagi kini berada di Tingkat II Seminari Tinggi Yerusalem Baru Papua, sebagai calon imam untuk Keuskupan Agung Merauke.
Selamat berpesta perak, wahai saudara-saudariku di Semau.
Cerita ini disadur kembali dari blog Aklahat yang sudah terhapus dari mesin google. Penulis : Patris Allegro
Saya dan Bapak Yusuf dari Akle, Semau Selatan
Tersebutlah, Bapak Melkianus Bela ialah seorang penatua dalam suatu jemaat di Akle Semau Selatan. Pada suatu ketika ia mengalami konflik dengan jemaatnya wacana keuangan jemaat. Bapak Melki ini saking jengkelnya terhadap jemaat, dia tidak mau mengikuti acara jemaat. Setiap hari Minggu ia hanya tinggal di kebun, sementara orang-orang lain pergi ke gereja untuk mengikuti ibadat. Satu-satunya teman penghibur Melki ini ialah radio mini yang disetel untuk menangkap siaran dari Kupang.
Pada suatu hari iseng-iseng memutar gelombang radio, ia menemukan bunyi orang berdoa, menyebut-nyebut Tuhan Yesus namun menyinggung juga dengan ibunya Maria. Orang di gereja saya tidak biasa menyamakan Yesus dengan Ibunya, pikir Melki. Bagaimanapun juga Yesus itu Tuhan, sedangkan Maria itu insan biasa menyerupai orang kebanyakan di kampung.
Hari demi hari ia semakin tertarik dengan doa Angelus yang selalu dikumandangkan dari Radio Verbum itu, setiap jam enam pagi jam duabelas siang sampai jam enam sore. Ia semakin tertarik. Mungkin ada kristen yang lebih menarik. Ia mengikuti doa-doa itu setiap hari., sampai suatu hari ia ingin mencari tahu apa Kristen itu.
Sepengetahuannya, di utara ada orang yang beragama Kristen itu, seorang perantauan dari Solor yang menetap di Otan. Orang itu ditemuinya. Bapak Yoseph mendapatkan Melki dengan penuh ragu walaupun cukup respek. Ia ragu benarkah orang ini tertarik dengan keyakinan Kristen atau semata sebab kecewa dengan perilaku jemaatnya?
Melki dianjurkan untuk sendiri tiba ke Kupang menemui orang-orang penting menyerupai Pastor paroki di Katedral atau Bapak Uskup Agung Kupang.
Dengan modal nekad, Melki turun ke Kupang, dan menemui Bapa Uskup Gregorius Manteiro. Uskup menerimanya dengan perilaku kebapaan. "Melki, Melki, pulang dan kamu belum sanggup masuk Kristen sekarang. Belajar banyak dulu untuk menjadi katolik, sambil memperlihatkan buah tangan sebuah buku doa harian.
Meskipun bahagia Melki pulang dengan kecewa. Ia pikir di Kupang ini ia akan diterima dengan resmi menjadi Katolik. Ternyata tidak.
Ia kembali ke Semau dengan segala pergulatan batinnya. Namun sekali berlangkah ia tak mau mundur. Ia mengajak anak dan isterinya untuk tidak ke gereja namun setiap hari ahad mendoakan Salam Maria di kebunnya.
Sikapnya yang menarik diri dari jemaat ini mengundang kecurigaan dari masyarakat. Mereka menganggap Melki telah menganut suatu aliran sesat. Maka pada suatu hari Melki ditangkap dan diadili seturut pengadilan desa. Dia dipukuli dan dipaksa untuk mengaku bahwa dia telah melaksanakan aliran sesat dan berusaha untuk membujuk banyak orang untuk meninggalkan agama Kristen.
Kembali ke rumah dengan babak belur, Melki bukannya jera. Ia malah mencari proteksi ke Kupang. Mendatangi orang-orang Kristen yang dikenalnya sebagai pembesar-pembesar kota waktu itu. Dan ia mendapatkan dukungan. Pendeta yang mengadili dia tempo hari hasilnya dipindahkan dari Semau.
Tapi, Bapak Uskup belum juga mendapatkan dia sebagai orang Katolik. Hingga hasilnya pada suatu ketika di Oktober 1985 yang gersang, Bapa Uskup berkenan mengabarkan isu bangga ini, dia akan turun ke Semau Selatan, mengunjungi Melki dan saudara-saudaranya yang telah menentukan untuk menjadi Katolik. Siang yang terik mendaratkan Uskup Agung di Akle, Semau Selatan. Kedatangan Bapa Uskup lantas disongsong dengan hujan deras. Namun disambut dengan tangis kegembiraan. Bapa Uskup diarak berjalan kaki dari pelabuhan menuju kampung Akle. Pada kawasan Bapa Uskup beristirahat dan minum, didirikan sebuah kapel kini menjadi Kapel Santu Thomas Rasul.
Sekarang umat semakin bertambah banyak. kebanyakan dari mereka ialah pindahan dari Kristen Protestan. Perkembangan umat secara kuantitas dan kualitas di Semau ini tak terlepas dari peranan besar Romo Yustinus Phoa dan Romo Piet Olin. Kedua Romo ini pernah menjabat sebagai Kepala Paroki St. Gregorius Agung Oeleta Kupang, di mana daerahnya mencakup penggalan barat Kota Kupang dan Pulau Semau.
Ketika kamu tiba ke Semau nanti, kamu akan mendapati empat kapel besar di sana, di Uitao, Akle, Uitiuhtuan, dan Naok. Dua orang putera kelahiran Semau pun telah menentukan untuk menjadi imam. Frater Yarid Kornelis Munah kini berada di jenjang terakhir pendidikan di Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang, dan insya Allah akan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2011. Sedangkan seorang lagi kini berada di Tingkat II Seminari Tinggi Yerusalem Baru Papua, sebagai calon imam untuk Keuskupan Agung Merauke.
Selamat berpesta perak, wahai saudara-saudariku di Semau.
Cerita ini disadur kembali dari blog Aklahat yang sudah terhapus dari mesin google. Penulis : Patris Allegro