Minggu, 09 September 2018

6 Alasan Kenapa Facebook Jelek Bagi Kesehatan Mental

Alasan Kenapa Facebook Buruk bagi Kesehatan Mental 6 Alasan Kenapa Facebook Buruk bagi Kesehatan MentalMister Abidin akan membahas alasan kenapa facebook jelek bagi kesehatan mental. Kehadiran Facebook sebagai salah satu media umum membawa akomodasi kepada kehidupan kita. Kita sanggup terhubung dengan banyak orang di sekitar kita melalui media ini.




Bahkan kita sanggup mencari orang yang kita kenal pada masa lalu. Kita sanggup mencari sobat yang pindah ke luar kota, bahkan ke luar negeri yang kita tidak mempunyai kontak mereka sebelumnya.

Selain itu kita sanggup bergabung dengan grup yang berisi orang-orang yang mempunyai hobi sejenis dengan kita. Kita sanggup berlangganan dengan media masa melalui halaman Facebooknya. Kita sanggup mengetahui banyak informasi gres dari Facebook. Akan tetapi apakah kita pernah berpikir keburukan dari Facebook yang selama ini sudah kita gunakan dalam hidup sehari-hari.

Memang semua yang ada dalam hidup ini mempunyai manfaat dan efek samping yang harus ditanggung oleh penggunanya. Berikut ini alasan kenapa facebook jelek bagi kesehatan mental.


1. Facebook sanggup menciptakan hidupmu kelihatan tidak seindah hidup orang lain

Bagi kita yang sering memakai facebook tentu bukan hal yang mengagetkan saat kita melihat sobat maupun sahabat kita yang mengunggah foto mengenai kehidupannya. Ada yang suka mengunggah foto bersama pacarnya, foto bersama keluarganya, foto wacana liburannya ke luar negeri, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang ingin mereka bagikan dengan orang lain.

Ketika suasana hati orang yang melihat foto tersebut sedang buruk, kebanyakan akan menyampaikan bahwa pengunggah foto suka pamer kehidupannya. Kemudian kita akan melihat kehidupan kita yang tidak sekeren kehidupan pengunggah foto.

2. Facebook sanggup membuatmu iri dengan kehidupan orang lain

Melihat poin nomer 1, kita akan mulai membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Melihat acara kita yang tidak sebanyak orang lain. Lebih lagi kita melihat kemewahan hidup orang lain yang jauh dari keadaan kita. Terpikir kapan kita sanggup menikmati kehidupan glamor menyerupai foto yang diunggah oleh orang tersebut. Hal yang paling jelek adalah, kita tidak menikmati kehidupan kita sendiri. Kecenderungan untuk memalsukan gaya hidup orang lain menjadi meningkat. Padahal, kalau kita memalsukan gaya hidup seseorang kita tidak akan pernah benar-benar menikmati kehidupan kita sendiri.

3. Facebook sanggup menggiring fatwa yang salah

Fitur yang dimiliki kebanyakan media sosial, termasuk Facebook, ialah menampilkan sesuatu yang sesuai dengan minat atau hal yang kita sukai. Ketika kita menyukai salah satu kubu misalnya, maka facebook akan menyarankan artikel yang pro dengan kubu yang kita sukai. Pemikiran kita digiring seolah-olah bahwa kubu tersebut merupakan kubu yang paling baik. 

Informasi yang kita peroleh menjadi terbatasi dengan condong ke salah satu kutub. Informasi mengenai kebaikan kubu yang menjadi lawan menjadi tersingkir ke urutan paling bawah dari beranda kita. Hal ini sedikit banyak mempersempit fatwa kita mengenai konflik yang sedang hangat di masyarakat. Keterbukaan fatwa dalam melihat konflik yang terjadi menjadi kunci untuk sanggup bersikap dengan bijak menghadapi pertikaian yang sering terjadi di media sosial.

4. Facebook sanggup menghubungkanmu dengan orang yang seharusnya kau lupakan

Seperti yang saya bahas di awal artikel, bahwa kita diberi akomodasi untuk mencari orang yang kita kenal di masa lalu. Kita tinggal mengetikkan nama dalam kotak pencarian dan boom, Facebook memperlihatkan saran beberapa orang yang namanya sesuai dengan pencarian kita. Masalahnya saat kita ingin melupakan seseorang, kita justru cenderung mencarinya dalam kotak pencarian. Dalam masalah lain, orang tersebut yang justru tiba-tiba menghubungi kita yang mungkin dulu pernah disakitinya. Banyak kenangan jelek yang ingin kita hapus dari kehidupan kita, tapi dengan mudahnya orang itu kembali ke kehidupan kita dan sia-sialah usaha kita untuk melupakannya selama ini.

5. Facebook sanggup memperlihatkan informasi eksklusif yang seharusnya dirahasiakan dari orang lain

Fitur privasi yang disediakan Facebook memang anggun untuk menjamin data penggunanya. Kita sanggup mengatur siapa saja yang sanggup melihat informasi eksklusif dan juga apa pun yang kita unggah. Misalnya hanya kita sendiri yang sanggup melihatnya, teman, sobat dari teman, bahkan hingga publik. Ketika pengaturan privasi diatur menjadi publik, maka seluruh orang di dunia sanggup melihatnya. Hal yang ingin saya tekankan ialah faktor kelalaian sebagai manusia. Mengunggah sesuatu ke dunia maya dengan tergesa-gesa sering menciptakan kita lupa untuk mengatur privasi ini. 

Unggahan yang seharusnya kita bagikan hanya kepada sobat justru sanggup dilihat oleh semua orang. Biasanya unggahan tersebut berisi konten sensitif yang hanya sanggup dimengerti oleh orang-orang terdekat kita. Tetapi dengan keteledoran yang kita lakukan, orang aneh yang tidak pernah bertemu dengan kita sanggup memperlihatkan komentar sesuai harapan mereka. Mungkin kita akan dinilai dan dihakimi sesuai dengan jari-jari mereka masing-masing. Kemudian unggahan tersebut sanggup disebarkan ke mana saja tanpa persetujuan kita. Hal ini tentu sanggup dengan gampang merusak reputasi dan nama baik yang kita miliki.

6. Facebook sanggup menyebabkan kecanduan

Kecanduan akan sosial media memang menyerang banyak orang. Ada sesuatu yang kurang saat kita sering memakai Facebook kemudian tidak membukannya dalam sehari saja. Kita khawatir akan ketinggalan berita. Bagaimana kabar seseorang yang kita suka. Kasus terparah kita tidak sanggup tidur alasannya ialah belum membuka Facebook dalam sehari seolah-olah Facebook menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi untuk sanggup bertahan hidup. Jika kita tidak membuka Facebook, kita menjadi tidak bersemangat dalam menjalani hidup yang sebetulnya akan tetap baik-baik saja tanpa adanya Facebook.

Demikian alasan kenapa Facebook jelek bagi kesehatan mental kita. Saya tidak menyampaikan Facebook sepenuhnya buruk, tetapi terlalu banyak bergantung kepada Facebook bukan sesuatu yang baik. Semoga dengan membaca artikel ini menciptakan kita lebih bijak lagi dalam memakai semua sosial media, termasuk facebook.
Comments


EmoticonEmoticon